Hidden Figure (Movie Review)

Konflik paling menarik dalam sebuah film adalah yang diangkat dari kisah nyata dan yang paling memilukan adalah kisah perjuangan kaum yang dianggap lemah dan minoritas. Hidden Figure atau Sosok yang tersembunyi adalah kisah tentang wanita kulit hitam. Pada tahun 1961 di Amerika, warga kulit hitam sering sekali mendapat perlakuan tidak adil, bahkan dalam film ini digambarkan bagaimana kulit hitam sangat tertindas.

Katherin, wanita kulit hitam yang sangat pandai dan ahli dalam matematika, ia dapat menyelesaikan hitungan sesulit apapun dengan goresan pensil dan cepat. Karena kepandaiannya, ia berhasil bekerja di NASA. Pada zaman itu pula wanita sangat jarang sekali bekerja disana, Katherin dan teman-temannya diterima di perusahaan NASA, bagian computing dan disanalah kumpul wanita kulit hitam. Belum adanya kesetaraan gender dan rasis pada zaman ini membuat hati siapa pun pilu menonton film ini.

Pada bagian dimana Katherin diterima di salah satu divisi penting di perusahaan NASA, ia sebagai wanita kulit hitam pertama kali yang masuk di bagian ini. Perlakuan tidak adil pun terjadi pada Katherin, mendapat tugas lebih banyak, pekerjaan yang tidak dihargai, bahkan ketika ia ingin buang air kecil dan bertanya pada seorang wanita kulit putih, yang kemudian dijawab "tidak ada toilet untuk kulit hitam di gedung ini". Katherin harus menempuh gedung west computing group yang dulu dia bekerja, sejauh 4km (selama 40 menit) hanya untuk buang air kecil. Gila. Sebegitu berartinyakah warna kulit pada tahun itu. Yang lebih memilukan lagi adalah para warga kulit putih memberikan termos tambahan dengan tulisan colored, yang berarti termos khusus Katherin, kulit hitam satu-satunya di ruangan itu.

Berbedaan warna kulit, justru memotivasi Katherin dan dua sahabatnya untuk tetap maju dan menjadi orang yang pertama dan penggagas bahwa keahlian apapun bukan hanya bisa dilakukan oleh pria tetapi juga wanita, dan penindasan dan pengkotak-kotakan warna kulit yang mereka lakukan bukan menjadi halangan bagi Katherin.

Hiden Figure membuktikan bahwa bukan karena kamu mayoritas, lalu kamu berkuasa dan berhak menindas kaum minoritas. Buat apa mengkotak-kotakan diri jika di mata Tuhan kita semua sama, yang membedakan adalah segala amalan kita. Jika kamu menindas minoritas, lalu kamu merasa jumawa dan berhak masuk surga?


Saya harap film ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa pun yang menontonnya. Dan semoga tidak ada lagi penganiayaan serta penganiayaan terhadap kaum minoritas di Dunia ini, terutama Indonesia. Karena dengan perbedaan, hidup ini makin indah dan berwarna. 

Comments

Popular posts from this blog

Menteri Favorit ala Diah Sally

Do What You Love and Love What You Do

Menertawai Hal Yang Tabu Ala Slavoj Zizek