Selamat Jalan, Ibu

Hari ini, saya mendapat berita duka dari orang tua saya. Mereka bilang Ibu-nya Ela sudah kembali ke pangkuan Yang Maha Segalanya. Saya sejenak bingung dengan perkataan orang tua saya. Kemudian, bapak saya bilang, sebelum kamu berangkat kerja mampir dulu ya, ke rumah Ela, ibu sudah tiada. Memori saya langsung tertuju pada masa SD.

Ela, teman main di rumah sejak saya TK. Dari dulu orang tua saya selalu sibuk dengan pekerjaannya, setiap saya pulang sekolah, langsung bermain dengan Ela. Kawan saya, Ela mempunyai banyak saudara, dia anak ke 9 dari 9 bersaudara dan bapaknya sudah lama meninggal sejak dia kecil. Saya tidak pernah kesepian walaupun orang tua saya pulang kerja pada sore hari, karena saya bisa bermain dengan puas bersama Ela sampai sore dan saya pun selalu suka dengan kesederhanaan Ela dan keluarganya.

Ibu, begitu saya menyapa Mamaknya Ela, sangat baik sekali kepada saya, bahkan ketika makan siang tiba beliau mengajak saya untuk makan bersama dan beliau juga selalu bilang ‘Diah, sini makan bareng-bareng. Makannya seadanya ya’. Lauk yang saya paling suka dari Ibu adalah tempe, tahu, oncom dan sambal. Berkat Ibu, oncom jadi makanan favorit saya. Makan di rumah Ibu memang tidak mewah dan seadanya, tetapi saya selalu pingin nambah terus kalau makan di rumah Ibu. Sampai ketika Mamak saya pulang dan menawarkan makan, saya pun menolak karena saya kenyang sekali sudah makan di rumah Ibu. Mamak selalu marah kalau saya makan di rumah Ibu, mamak selalu bilang kalau kita jadi manusia tidak boleh sering meminta kepada orang lain, apalagi sama Ibu, karena Ibu punya banyak tanggungan.

Saya yang ketika itu tidak tahu apapun hanya mengangguk, tapi keesokan harinya Ibu selalu menyuruh saya untuk makan siang bersama Ela dan keluarganya. Ketika itu saya tidak mengerti, kenapa Mamak melarang saya makan di rumah Ibu, dan kenapa Mamak marah kalau saya makan di rumah Ibu? Padahal, saya tidak pernah meminta, tetapi Ibu selalu memberikan saya makan dan saya terkadang makan di rumah Ibu bukan karena lapar, namun karena saya suka dengan keluarga Ibu yang ramai.

Dari Mamak saya belajar bagaimana hidup mandiri dan tidak boleh banyak meminta kecuali dengan Allah, dari Ibu saya belajar bahwa memberikan dan membagikan sesuatu itu tidak perlu harus kaya. Masa kecil menurut saya adalah hal yang sangat susah sekali untuk dilupakan, mangkanya muncul beberapa penelitian yang menganjurkan untuk mengajarkan anak sejak kecil atau pada masa golden age, karena masa itulah awal mula tumbuh anak. Dan biasanya, ketika kecil mudah sekali untuk mengingat sesuatu.

Ibu, terima kasih sudah menjadi orang tua saya di kala Mamak dan Bapak saya kerja. Saya merasakan kehangatan yang Ibu berikan kepada saya, bahkan Ela sudah saya anggap sebagai kaka saya sendiri. Padahal, seharusnya Ibu bisa melihat sosok lelaki yang siap menjadi imam Ela. Ibu juga belum melihat bagaimana gantengnya imam saya, dan Ibu juga belum melihat bahwa anak yang dulu sering main ke rumah Ibu dan main bersama Ela, sudah besar bahkan sekarang sudah bisa bersolek. Tapi tenang bu, saya masih suka oncom, dan oncom favorit saya adalah buatan Ibu dan Mamak.

Ibu, hati-hati di sana ya. Kata Pak Ustad yang saya dengar ceramahnya, konon orang baik meninggal di hari yang baik. Tepat tanggal 3 November 2017 hari jumat, Ibu meninggalkan keluarga, saya hanya bisa berdoa Ibu segera sampai di surga Allah dan Ela insyaAllah kuat menghadapi ini semua, serta doa selalu dipanjatkan untuk Ibu. Semua yang di dunia ini milik Allah, dan semuanya pun akan kembali pada Allah.


Comments

Popular posts from this blog

Menteri Favorit ala Diah Sally

Do What You Love and Love What You Do

Menertawai Hal Yang Tabu Ala Slavoj Zizek