Pidi Baiq, Milea dan Dilan di Tahun 1990 (Review Film)

Nama Pidi Baiq mulai dikenal sebagai penulis, dan semakin banyak orang memperbincangkan namanya semenjak menulis novel Dilan 1990 tahun 2014, serta sekuelnya pada tahun 2015 dan 2016. Selain itu, Pidi Baiq mempunyai band pada tahun 1995 yang diberi nama The Panas Dalam, musisi asal Bandung ini juga telah menulis naskah film Baracas tahun 2017.

Nama beliau makin sering diperbincangkan semenjak ada pengumuman bahwa novel Dilan akan diangkat ke layar lebar dengan Iqbal, mantan personil Coboy Jr sebagai Dilan dan Vanesha Priscilla, adik dari Sissy Priscilla (pemeran AADC) sebagai Milea. Pasalnya, beberapa orang kecewa akan keputusan cast pada film Dilan 1990.

Mengambil latar tahun 90-an dan Bandung, Dilan anak SMA yang juga pemimpin geng motor di sekolahnya dan di sisi lain, Milea anak perempuan yang baru pindah ke sekolah Dilan. Dilan yang sangat puitis dan unik mencoba merebut hati Milea lewat kata-katanya yang puitis dan memberikan hadiah yang tak pernah terpikirkan sama sekali oleh Milea, TTS yang sudah diisi oleh Dilan. Sepanjang film penonton akan dibawa bernostalgia dengan suasana Bandung di tahun 90-an dan kalau boleh dibilang dalam film ini hampir tidak ada konflik seperti film-film yang sering kita temui. Dan nampaknya, itu tak jadi masalah karena sepanjang film, penonton disuguhkan hal-hal unik yang dilakukan dan keluar dari mulut Dilan cukup menghibur bahkan bisa jadi akan kamu ingat sampai beberapa tahun kedepan.

Film ini diambil dari sudut pandang Milea, seperti yang tadi sudah saya katakan di atas, film ini adalah adaptasi dari novel yang dibuat tiga sekuel, bisa jadi filmnya juga akan dibuat tiga sekuel. Sebelum menonton film Dilan 1990, saya sudah membaca bukunya terlebih dahulu. Dilan 1990 hadir sesuai dengan novelnya, bisa dibilang sejauh ini Dilan menjadi Film adaptasi terbaik kedua setelah Critical Eleven, karya Ika Natassa. Hal ini terjadi tak lepas dari Kang Pidi Baiq yang ikut terjun dalam pembuatan naskahnya.

Berbeda dengan Baracas, Dilan 1990 hadir lebih menghibur dan menggemaskan. Namun, dalam Dilan 1990 ada beberapa cast yang dirasanya kurang menghayati perannya, seperti beberapa teman Dilan dan Milea yang hanya sebagai pemeran pendukung, serta di bagian ketika Milea tertawa ditelpon agaknya terlalu dipaksa sehingga saya pun tak dapat rasa Milea bahagia ketika ditelepon Dilan. Beberapa orang kecewa dengan Iqbal sebagai pemeran utamanya, namun saya tak merasa keberatan karena Iqbal cukup bisa mewakili sosok Dilan, walau ada beberapa scene yang kurang penghayatan. Keberhasilan Iqbal dalam memerankan Dilan terbukti hampir semua dialog yang keluar dari mulutnya menjadi iconic film Dilan 1990, hal ini bisa terjadi karena memang penyampaian Iqbal cukup baik dalam film ini. Dan kamu bisa buka internet atau instagram banyak sekali meme dan parodi yang dibuat.

Pada awal film dimulai dengan narasi yang dilakukan Milea, ada suatu keganjalan. Suara Milea, Vanesha Priscilla pada awal narasi sungguh berbeda. Saya pun mengira bahwa itu adalah suara sang kaka, Sissy Priscilla, pemain AADC, jika mendengar dari warna suaranya. Bisa jadi itu memang Sisi Priscilla karena memang pada awal narasi ceritanya Milea sudah dewasa. Kalau memang benar, wajar nampaknya pemilihan peran Milea ketika SMA, Vanesha Priscilla. But, let's see next series of Dilan yaa.


Kerja keras ingin menampilkan visual yang 90-an sangat-sangat kerasa, terbukti pada saat pengambilan di salah satu scene, ketika Bunda Dilan mengendarai Jeep bersama Milea, CGI nya cukup terlihat jelas. Walau begitu, tak masalah karena cerita yang ditampilkan tidak berat, seperti rindu Dilan terhadap Milea, tetapi kekuatan karakter Dilan dan Milea cukup bisa membuat kamu susah move on dari film ini. Olehkarena itu, setelah menonton saya memberikan rating 3/5 dan saran saya kalau kamu mau nonton harus ajak teman biar lebih asik, solanya kalau sendiri nanti filmnya berubah judul Dilan...da kesepian. Hahaha. 

Comments

Popular posts from this blog

Autobiografi Amalia Prabowo: Wonderful Life (Book Review)

Ada kesamaan apa novel terbaru karya Hanum Rais dan Rangga “Faith and the City” dengan novel “Sex and the City” ?

Menertawai Hal Yang Tabu Ala Slavoj Zizek