Susah Sinyal: Drama Comedy yang Sangat Jenius


#JamanNow internet jadi hal yang sangat diagungkan, bahkan beberapa dari kita mungkin gak akan bisa hidup tanpa internet. Teman saya pernah bilang; lebih baik gak makan dari pada gak ada sinyal/kuota internet. Semua bisa terjadi di dunia internet. Bahkan, sekarang kalau nyari berita pasti lewat platform digital.


Susah sinyal, hadir debagai penghibur di akhir tahun yang benar-benar sangat menghibur. I mean it, guys. Film keluarga yang mana konfliknya sangat dekat dengan saya, bahkan kamu, berhasil dibalut dengan sangat sangat JENIUS. 3 tahun berturut-turut Ernest Prakasa, menghiasi dunia perfilman Indonesia, mulai dari Ngenest The movie (2015), Cek Toko sebelah (2016) dan kali ini Susah Sinyal. Dari 3 film Ernest, saya paling suka karyanya tahun ini, Susah Sinyal, selain bisa membalut konflik yang sangat dekat dengan kita. Dia juga, membuat setiap adegan terasa lucu, I mean so funny & out of the box.


Iyes, bukan Ernest Prakasa namanya jika tidak bisa menghadirkan sajian yhang sangat-sangat lucu dan berkelas. Honestly, saya sudah mengikuti jejak karirnya sejak tahun 2011, sejak beliau mengikuti kompetisi Stand Up Comedy Indonesia di Kompas TV. Materi yang selalu dibawakan juga tak jauh dari kehidupannya, etnis Tionghoa. Karena itu saya beri judul pada blog kali ini, Drama Comedy yang sangat Jenius. Ernest tahu betul target pasar filmnya, olehkarena nya dia membuat film dengan hal yang berbeda dan cukup lihai.


Sebelum menonton filmnya, saya berpikir bahwa Ernest akan menyajikan penonton dengan comedy yang sangat sudah dia pahami dan terbukti berhasil membuat gelak tawa, tentang etnis Tionghoa. Namun, saya salah besar! Ernest hanya menjadikan comedy tentang etnis Tionghoa nya sedikit dan boleh dibilang hanya sebagai pemanis. Dan Ernest memang tidak pernah mengecewakan waktu dan uang yang sudah saya sisihkan untuk melihat karya-karyanya.
Ernest Prakasa gak pernah main-main dalam berkarya!


Usaha Ernest Prakasa dalam film Susah Sinyal sangat-sangat perlu diacungkan jempol. Pasalnya, Ernest juga konsultasi ke beberapa ahli, seperti psikolog. Sebelum film ini tayang, saya mendapat kesempatan MC di salah satu kampus di Jakarta Barat, dalam acara Parenting, dengan pembicara Mbak Verauli (Psikolog). Beliau juga cerita sedikit tentang keikutsertaan beliau dalam film terbaru Ernest. Dan tak tanggung-tanggung, bahkan Ernest menjadikan Mbak Verauli sebagai pemain. Hayyo tebak Mbak Vera yang mana? Kalau belum nonton pasti bingung.  
Bukan hanya itu, usahanya pun terlihat dengan pemilihan lokasi syuting yang benar-benar enak dipandang dan bisa jadi meng-edukasi penonton. Gila! Sumba memang surganya Indonesia.


Namun, touching moment dalam film ini agak kurang bisa menggetarkan hati. Serta pengambilan gambar ketika, Adina Wirasti menemui anaknya di Sumba, dan mereka berdua melakukan dialog agak kurang pas dan blocking. Nampaknya pula, Ernest mau mengulang kesuksesan sebelumnya bersama Ge Pamungkas, namun entahlah saya kurang suka dengan peran Ge Pamungkas yang dihadirkan.  I don’t know.


Tenang saja, itu semua termaafkan karena plot, twist, main cast serta comedy nya berhasil menggelitik saya, bahkan beberapa comedy-nya hadir sangat jenius dan berbobot. Dalam film ini, Ernest membuktikan bahwa, sang istri Meira Anastasia adalah partner kerja yang hebat. Good Job!



Gak sabar menunggu karya yang lebih bagus dari Ernest Prakasa & Meira Anastasia di tahun 2018. Terus berkarya ya!

Rating: 4/5

No comments:

Post a Comment