Review Film I, Tonya

60 menit pertama menonton film I, Tonya, saya sudah menyimpulkan bahwa film ini sangat sangat unik dan beda. Menggambarkan tentang Tonya Harding, atlet Skating dari Amerika yang berhasil membuat rekor triple axel. Namun rekor itu, belum cukup membuat nama Tonya menjadi baik, bahkan kala itu Tonya Harding terkenal dengan kasus percobaan pembunuhan Nancy Keriggan, teman sesama atletnya.

Pada film ini juga kita akan diajak bertualang di kehidupan Tonya Harding, baik tentang kehidupannya bersama sang kekasih, ibu & karir skatingn-nya. Tonya yang memang didik oleh sang ibu untuk menjadi atlit skating benar-benar membuahkan hasil yang cukup fantastis, terbukti dengan prestasi yang sudah dia torehkan. Namun, hal itu tidak sebanding dengan kehidupannya dengan sang ibu, yang membuat saya tak habis pikir dan selalu menggelengkan kepala karena adegan mereka sangat-sangat kasar.

Allison Janney yang berperan sebagai ibu Tonya, selalu melakukan tindak kekerasan baik secara emosional/verbal maupun fisik. Setiap adegan yang mereka lakukan membuat saya berpikir, “Ada ya, ibu macam itu. Kok bisa?”.

Ketika kuliah di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dulu, dosen saya sering bilang bahwa anak adalah anugerah. Tak semua orang, diberikan kesempatan untuk mempunyai anak. Tapi tetap ada saja orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anak, alih-alih untuk mendidik anak. Bahkan ada pola asuh dengan tipe otoriter, mendidik dengan tegas, bukan kekerasan. Bagian inilah yang banyak orang salah paham. Kekerasan pada anak memang sangat-sangat dilarang, karena banyak sekali dampak yang akan terjadi pada anak ketika dewasa, salah satunya anak bisa melakukan kekerasan yang sama pada sekelilingnya. Tidak selalu memang, tapi sering terjadi pada anak yang mengalami kekerasan. Bahkan karena dampak tersebut, sang anak bisa mengalami gangguan sosial.

Film I, Tonya cukup menggambarkan kekerasan dalam keluarga dan rumah tangga. Seperti pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga lagi. Itulah kehidupan Tonya Harding, Margot Robbie. Dari kecil sudah mengalami kekerasan oleh sang ibu, ketika dewasa dia menikah dengan sosok pria yang juga suka melakukan kekerasan fisik. Film yang dibuat ala dokumenter ini membuat kita benar-benar dibawa seakan-akan para pemeran dalam film ini benar-benar orang asli dalam kehidupan Tonya.  Drama comedy yang satir dibuat agar siapapun yang menonton dapat merenungkan adegan-adegan yang ditampilkan. Mungkin sering dari para orang tua, menggunakan kata-kata verbal pada anaknya. Padahal, hal tersebut bisa saja sangat berpengaruh ketika dewasa.

Di sisi lain, tentang keluarga Tonya, karirnya dalam skating cukup baik. Namun, harus jatuh dikarenakan Tonya menjadi tersangka percobaan pembunuhan terhadap rivalnya, Nancy Keringgan. Menarik! Dalam film ini diceritakan bahwasanya, Tonya tidak bersalah sama sekali, tetapi sang suamilah, Sebastian Stan yang menyuruh bodyguard Tonya untuk menghamburkan konsentrasi Nancy dengan cara memberikan surat cinta. Namun, sang bodyguard justru menyewa orang untuk membunuh Nancy.

Pada akhirnya, putusan pengadilan menetapkan Tonya bersalah dan dikenakan denda, penjara dan tidak boleh mengikuti kompetisi skating seumur hidup. Damn. Adegan ini yang membuat saya-saya sangat sesak. Dari kecil sang ibu bahkan tidak menyekolahkan Tonya sekolah umum, sehingga Tonya menangis tersendak karena dia merasa tidak bisa menjalani hidup tanpa skating dan tidak mempunyai skill lain.

Media dan pihak polisi cukup memberikan dampak yang besar terhadap putusan kasus Tonya. Detektif dalam kasus Tonya menjabarkan bahwa tak ada bukti konkrit bahwa dia terlibat. Namun, media cukup antusias memberitakan bad news tentang Tonya.

Terkadang apa yang dipaparkan media memang tidak semuanya harus kita percaya, karena media terkadang menjual berita demi rating. Tahun 2017, saya berkesempatan berkunjung ke salah satu TV berita di Jakarta. Mereka pun menjabarkan bahwa beberapa kompetitor sering sekali demi berita dan rating tidak memfilter atau menyensor hal-hal yang cukup tidak pantaskan ditayangkan. Semua dilakukan demi rating. So, di jaman serba digital saat ini, sebaiknya kita memang tidak menelan info darimanapun bulat-bulat, karena cukup tahu saja yang bulat.


Drama dark comedy pada film I, Tonya bisa cukup related dengan dunia nyata. Silahkan ditonton dan setelah menonton mari sama-sama introspeksi diri, jika Anda orang tua apakah yang ibu Tonya lakukan pernah Anda lakukan? Dan menginstrospeksi sikap kita ketika melihat atau mendengar berita yang kita terima. 

Comments

Popular posts from this blog

Menteri Favorit ala Diah Sally

5 Hal Yang Harus Diperhatikan Sebelum Berbicara Di Depan Umum

3 Jenis Narasumber & Solusinya