Review Buku: Pemburu Aksara karya Ana Maria Shua


Sejak dua tahun yang lalu, Marjin Kiri menjadi salah satu penerbit favorit saya. Penerbit ini menarik hati saya karena banyak sekali buku-buku yang diterbitkan adalah buku karya Penulis-penulis luar negeri. Maklum, karena ingin sekali membaca karya-karya penulis luar terutama penulis Amerika Latin, namun tak pandai berbahasa Inggris jadilah, Marjin Kiri bagai air di tengah Gurun Sahara, pelepas dahaga dan membuat semangat hidup. Setelah baca buku ini (mungkin) saya akan menjuluki diri saya bagian dari PeMarkir, sapaan bagi pecinta karya-karya Marjin Kiri.



Kali ini Marjin Kiri hadir dengan karya Ana Maria Shua, Penulis kelahiran Buenos Aires. Terbitnya buku ini agak membuat saya sedikit kecewa karena buku ini sangat bagus dan kenapa baru tahun 2018 buku ini hadir dalam bentuk terjemahan, padahal aslinya buku ini terbit tahun 2009. Pemburu Aksara, sepilihan fiksi mini membuat hati saya sedih di beberapa cerita dan tertawa terbahak di cerita-cerita dengan ending yang unpredictable.


Awal melihat promosi yang dilakukan Marjin Kiri lewat instagramnya, serasa pas sekali. Pasalnya, saya sedang gemar membuat fiksi mini, karena di komunitas yang saya ikuti, Klub Blogger & Buku (KUBBU), ada satu malam fiksi mini dimana anggota grup bebas membuat fiksi mini dengan tema yang ditentukan. Fiksi mini sendiri adalah cerita atau narasi yang terbuat dari 2 atau 3 kalimat saja. Namun, ketika saya buka buku Pemburu Aksara ternyata fiksi mininya tak sesingkat yang pernah saya buat ketika malam fiksi mini di KUBBU. Saya pun menyimpulkan bahwa, fiksi mini memang cerita fiksi yang singkat, dalam buku ini semua cerita maksimal tak lebih dari satu setengah halaman.


Saya masih tak bisa berpikir bagaimana Ana Maria Shua membuat cerita dengan sangat ringkas, namun ceritanya punya punchline di akhir yang sangat kena dan menyentil. Saya pun sempat dibuat menyunggingkan satu bibir dan mengernyitkan dahi pada beberapa cerita, mungkin saya harus baca berkali-kali pada bagian itu atau mungkin mendiskusikannya langsung dengan teman saya. Membaca buku ini seperti memecahkan pertanyaan pada Teka Teki Silang (TTS), ada beberapa bagian yang mudah dicerna dan ada beberapa bagian kecil yang membingungkan. Apapun itu, saya sangat suka pada fiksi mini Ana Maria. Cerdas!


Terbagi menjadi 6 bagian yaitu; Pemimpi, Pondok Geisha, Botani Kekacauan, Musim Hantu, Fenomena Sirkus dan Karya Terserak. Favorit saya dalam buku ini adalah bagian Pemimpi. Benar-benar mengesalkan Ana Maria ini, saya jadi ingin sekali membelah isi otaknya, sampai bisa buat fiksi mini yang berkesan dan sulit dilupakan. Dalam buku ini juga banyak kosa kata baru yang bisa kamu dapat.


Nama Ana Maria Shua sudah mulai berkibar sejak umurnya 16 tahun lewat kumpulan puisi. Serta puluhan buku yang ia terbitkan dengan genre; puisi, novel, cerita pendek, fiksi mini dan humor. Bukan hanya itu, ia juga menerima beberapa penghargaan karenanya sayang sekali jika kita tak menyerap ilmu beliau lewat karya-karyanya. Bersyukur sekali, saya bisa menikmati dan memahami karyanya, hal ini tak terlepas dari Ronny Agustinus sebagai penerjemah. Ke depannya saya berharap bisa menikmati karya-karya penulis luar dengan cepat, bahkan tak perlu menunggu bertahun-tahun. Terima kasih, Marjin kiri yang terus menerbitkan buku karena kualitas. Semoga terus mengudara ya!

Comments

  1. Saya baru dengar tentang penerbit Marjin Kiri ini. Boleh lah nanti memburu buku-bukunya :)
    Oiya, posting foto cover buku yang sedang direview dong kaak :D

    ReplyDelete
  2. Sangat menarik review-nya dan lengkap. Saya ingin kamu mereview buku saya juga

    ReplyDelete
  3. Nah kannnnnn... Jadi penasaran sama bukunya....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menteri Favorit ala Diah Sally

5 Hal Yang Harus Diperhatikan Sebelum Berbicara Di Depan Umum

3 Jenis Narasumber & Solusinya