Amazing Trip to Raja Ampat with Incredible People

Melakukan perjalanan ke suatu tempat, menurut saya adalah bagaimana kita terus belajar dan memperbaiki hubungan antar sesama dan Sang Khaliq Yang Maha Asik. Terkadang saya sengaja melakukan perjalanan yang di dalamnya orang-orang yang belum pernah saya temui. Hal itu, saya lakukan agar selalu belajar dari kehidupan orang lain, mangkanya ketika melakukan trip dengan orang baru, saya cenderung pendiam.

Warga BPJ trip to Wayag berfoto di Piaynemo dengan juru cekrek Om @bintar_binz

Tanggal 27 April 2018 saya mengikuti trip to Wayag, Raja Ampat dengan BPJ. Melihat keindahan dan kecantikan Raja Ampat memang menjadi cita-cita banyak traveller, baik dalam negeri maupun luar negeri. Wajar saja, karena memang Raja Ampat dinobatkan sebagai The Best Destination kategori Adventure oleh Mondo Travel Magazine dari Finlandia, serta menjadi World’s Best Snorkeling Destination 2015 oleh CNN. Dunia saja sudah mengakui keindahan Raja Ampat, tak herankan kalau banyak yang ingin kesana?

Beruntungnya saya sudah menginjakan kaki di Raja Ampat. Bukan hanya itu, bahkan saya bertemu orang-orang hebat dengan latar belakang yang berbeda. Sebenarnya, mereka lah yang membuat trip ini makin asik dan berwarna. Guyonan dan tingkah laku yang menggelitik perut, menjadi hal yang tak terlupakan. Siapa saja mereka? Kali ini saya akan memperkenalkan 33 orang hebat yang saya kenal di Wayag, Raja Ampat langsung kepoin instagram mereka ya!

Si Biang Kerok

Pernah dengar kata ‘Ga ada lo, ga rame!’ ? Yes, mereka ini Biang Kerok pembuat onar serta membuat kami terbahak dengan perkataan dan tingkah lakunya. Saya ga bisa bayangin kalau trip ini ga ada mereka. Seru tapi mungkin akan terasa seperti lagunya Ari Lasso, Hampa. Kalau nanti kamu satu trip dengan mereka bakal tahu deh.

Veni, Ini dia biang Kerok nomor satu. Semua guyonan dan tingkah lakunya buat kami terbahak. Ada saja yang dilakukannya. Bahkan, ga ada capeknya untuk menghibur kami. Heran dia itu baterainya ga pernah habis. Padahal pertama kali saya bertemu dia di Bandara Sultan Hasanudin ga ada lucunya sama sekali, bahkan terlihat pendiam. Itu alasanya, kita tak boleh melihat orang dari covernya ya.

Kakak Nona berfoto di Telaga Bintang dengan Juru Cekrek Oom @Bintar_binz

 Kakak Nona begitu teman-teman satu trip memanggilnya, bahkan ada yang memanggil Kakak Guru, mungkin panggilan itu keluar karena setiap kata yang terucap bukan hanya lucu, terkadang memotivasi dan ngena. Kakak Guru bekerja di salah satu Rumah Sakit bagian administrasi, kalau ga salah, berarti benar. Setelah selesai trip, Kakak Nona pulang ke kampung halamannya Menado. Dan salah satu kami bertanya, apa yang khas di Menado. Dia pun berkata, kalau untuk laki-laki 3B (Bunaken, Bubur & Bibir orang Menado) Hahaha. Saya pun tak tahan dengan kata yang keluar dari mulutnya. Dan ketika di Bandara, kami bertukar id instagram dan ternyata Kakak Nona ini tak main instagram, hanya main facebook dan twitter itu pun untuk mencari info terkini. Gokil! Pantas saja, kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya terasa real.

Mona, wanita berkabut yang pertama kali saya temui di Bandara Soekarno Hatta. Saya sudah duga dia salah satu warga BPJ yang ikut trip ke Wayag. Karena saya ragu, jadi saya urungkan niat untuk menyapa dan bertemu lagi di Bandara Sultan Hasanudin, Makasar di dalam bus menuju pesawat. Seketika Mona bertanya berapa umur saya, dan ternyata dia lebih muda satu tahun dengan saya. Tapi Mona memiliki wajah yang cukup dewasa. Bekerja di perusahaan asing membuat Mona tak absen untuk mengelilingi Indonesia, selain itu, jika dilihat dari instagramnya dia anak gaul Jakarta.

Anak Gaul Jakarta, Mona di Piaynemo. Ahli jepret oleh @FreyituFerry


Wahyu, teman kantor Mona. Mereka berdua satu kantor, namun berbeda divisi. Kalau sudah ada Mona ditambah ada Wahyu, duh bisa adu mulut mereka berdua. Hahah. Mungkin, menurut sebagian orang Wahyu ini adalah tipe cowok yang romantis, mungkin menurut cewek yang suka digombalin. Tapi ga buat cewek yang kalau ditanya ‘Bapak kamu tukang listrik ya?’ yang disambar dengan jawaban ‘enak aja lo, bapak gue PNS tau!’ Hahahaha.

Si tampan di-cekrek oleh Om @Bintar_binz

Si Geng Sunda

Geng sunda ini diisi dengan warga sunda, pastinya. Ada Ryan, Chandra & Yoga. Mereka sekumpulan orang sunda, sudah kenal satu sama lain sebelum trip ini dilaksanakan. Kalau mereka ngomong sunda, suka roaming gitu. Dan memang orang sunda itu diindentik dengan sopan dan lembut. Terbukti mereka bertiga sopan dan lembut. Ohya, selain itu mereka juga baik hati. Saya sering sekali dibantu mereka ketika menuruni bukit yang cukup terjal.

Ryan, Yoga & Chandra berpose untuk majalah Gaul 


Si Suka di Foto

Kemanapun perjalanannya memang yang terpenting adalah sebuah foto. Tanpa foto tak ada kenangan yang tersisa dalam sebuah perjalanan. Dan #JamanNow kalau kita cerita sudah pernah ke Raja Ampat, maka teman-teman pun akan memberikan interupsi dengan berkata, No Picture, Hoax!

Si Narsis ini ditempati oleh Andelo, Opa Andi, Tri, Desi, Om Didit & Om Anton. Sebenarnya, dalam trip to Wayag kali ini, semuanya suka difoto hanya saja beberapa orang yang harusnya masuk kategori suka difoto lebih cocok masuk tim lain.

Ka Desi dijepret ala candid oleh Koh @Freyituferry

Om Didit minta dicekrek sama Om @Bintar_binz

Duileh, gayanya bak raja istri 4 *eh. Diambil dari tustelnya Om @Bintar_binz

Om Anton yang jago diving

Andelo yang siap menyemangatimu untuk sabar menunggu jodoh

Tri, yang siap mati demi membela Indonesia



Si Roommate

Mereka ini yang satu kamar dengan saya; Guntari Simanjuntak, Fifi & Christ.

Guntari, cukup unik ketika mendengar namanya. Lalu, saya bertanya nama panggilannya dan memang dia mengizinkan kami untuk memanggilnya Guntari. Ka Guntari, saya memanggilnya adalah warga trip yang berasal dari Malang. Alumni Unbraw dan sekarang kerja di Sampoerna. Dia juga jago diving, cita-citanya pengen bisa diving ala Marischka. 

Fifi, warga BPJ asal Yogya yang bekerja di perusahaan animasi dan sudah pernah bahkan sering membuat film animasi. Dari dia juga saya paham betapa sulitnya membuat film animasi. Ka Fifi ini lumayan sering nge-trip bareng ka Guntari. Kok bisa mereka saling kenal padahal rumahnya jauh banget? Iyalah, kalau sering nge-trip mah temannya dari mana-mana. Mangkanya, yuk nge-trip :P
Ekspresi waktu mantan minta balikan. Tukang Keker tustel oleh @FreyituFerry


Christ, alumni Trisakti yang sekarang kerja di Ismaya Live, salah satu promotor ternama di Indonesia. Saya agak menaikan volume suara, ketika tahu Christ bekerja di Ismaya. Promotor ini membuat saya jengkel, pasalnya Ismaya yang membawa Katy Perry ke Indonesia tahun 2015, dan tahun ini agak sedikit kesel karena bukan Ismaya yang membawa Katy Perry tetapi promotor yang ga mau rugi, mangkanya ngegandeng banyak sponsor biar bisa bagi-bagi tiket konser gratis, agar venue ga kosong-kosong banget. Saya jadi tahu alasannya kenapa Ismaya ga mau bawa Katy Perry lagi, mungkin dia tahu bahwa tiketnya ga bakal abis. Dan kekecewaan itu saya luapkan ke Christ. Hahahah. But anyway, Christ suka sekali jalan-jalan jika dilihat dari instagramnya dan highlight instagramnya bagus-bagus. Baru kali ini saya liat highlight instagram orang yang banyak dan sampai habis. 

Christ yang siap ngasih kamu tiket DWP GRATIS, besoknya baru bayar


Si Manis

Si manis paras dan hati melengkapi trip ini. Jika tadi kamu membaca bagian si Biang Kerok, Si Manis inilah yang membuat segala guyonan dan tingkah laku Si Biang Kerok jadi lucu nan kocak. Mereka paling banyak menyumbang tawa. Dan tanpa mereka trip ini ga akan lengkap. 

Linda, seorang dosen di salah satu kampus di Cijantung, kalau ga salah, berarti benar. Memang keliatan sekali dari wajahnya yang sangat berwibawa. Ka Linda yang paling banyak borong oleh-oleh buat keluarga di Jakarta.

Foto Ka Linda diambil oleh ahlinya, Om @Bintar_binz


Agung, orang yang paling kasian. Kenapa? Soalnya, pas di speedboat menuju Wayag dia duduk di samping saya dan pas di kapal menuju Sorong juga duduk di samping saya. Bukan apa-apa saya kasian dia selalu kegencet. Haha. Mudah-mudahan ga membawa sial ya, duduk samping saya terus.
Senyum sumringah pas awal bulan yang ditangkap oleh kamera @freyituferry

Verdi. Dunia memang sempit. Ternyata Verdi adalah temannya teman saya di Komunitas Kumpulan Para Penulis Indonesia, Simfoni Aksara. Gokil. Verdi juga sering ngasih gaya biar ga mati gaya ketika foto. Gaya epik ala Verdi adalah gaya jalan atau lari sambil menengok kanan, kiri dan ke depan dengan muka sumringah. Ohya, ditambah dia juga memberikan contoh foto dengan menggunakan properti di sekitar. Cool.

Deni, si manis dari Solo. Kurang begitu tahu tentangnya karena memang jarang ngobrol, cuma yang saya inget, dia sering banget manggil saya Sally selalu sendiri. Padahal setiap langkah saya selalu bersama para malaikat #BiarDikataReligius. Ohya, dia juga sering menjadi model Koh Hans ketika berfoto, antara memang perawakannya yang manis atau karena mau-an disuruh gaya gimana pun. Hahahaha.

Kamera ini dikeker oleh Koh @Hianusaeka


Fadil, yang saya tahu darinya adalah hafal jalan daerah rumah saya. Hahaha. Lucu banget, waktu itu ada yang nanya saya rumahnya dimana dan ternyata Fadil tahu betul arah rumah saya. Macam google maps ya dia.

momen merenung di atas kapal ini dipersembahkan oleh Om @Bintar_binz

Cahyo, yang menjadi incaran Kakak Nona selama trip berlangsung. Awal mula itu terjadi, karena Kakak Nona salah memanggil namanya, dan mulai saat itu Kakak Nona menorehkan nama Cahyo di lubuk hatinya yang paling dalam. Sudah basah sekalian saja berenang, begitu mungkin analogi yang pas untuk Kakak Nona dan Mas Cahyo. Lempar kata penuh goda pun berlangsung sampai trip berakhir, bahkan Kakak Nona belajar singkat tata krama Jawa, sungkem. Lucu hahah.
Nyari foto Cahyo yang sendirian susah amat

Along, sependengaran saya, dia baru saja menyelesaikan studi SMA-nya. Dan yang saya tahu Along itu kreatif. Inget betul, bagaimana Along menjadikan payung milik Tri sebagai properti dan bergaya layaknya Captain America, mungkin yang terlintas dalam otaknya saat itu adalah tentang film Infinity War, Avengers. Dan dia pun menyuruh saya bergaya ala Wonder Woman menggunakan payung dan bambu kecil. Hahaha. Setiap melihat fotonya saya terlalu terbahak. Along si Kreatif. Kayanya kalau udah gede dia cocok jadi Content Creator.

 Si Couple

Setiap perjalanan pasti ada sepasang keskasih yang gabung. Terkadang kemesraan mereka yang membuat para jombloers ngiri setengah mampus. Apalagi kalau mereka sudah berfoto, siap-siap baper akut.

Dedi & istri, suami istri yang mempunyai restoran kepiting, mempunyai persiapan trip yang matang, mulai dari bekal dan keperluan lainnya sangat lengkap dan yang membuat amazing adalah si istri tetap cantik saat nge-trip. Mungkin saya harus menikah dulu biar kaya mbaknya. Hehe.



Albert & Christy, Couple LDR. Albert mahasiswa Unpar, asli Plembang yang hobinya traveling. Dia bertemu Christy saat traveling. Mereka berdua kompak dan romantis banget. Foto-foto mereka dijamin pada bikin ngiri. Christy yang membuat saya menggelengkan kepala, saat turun dari bukit Wayag. Christy did it so easy. Edan. Dan ternyata saya baru tahu dia memang suka climbing. Pantesan. Kebetulan ketika pulang ke Jakarta kami satu peswat, dan Christy banyak berbagi kisahnya kepada saya. Terharu, ternyata Christy benar-benar sangat mandiri. Terima kasih Christy sudah berbagi kisah hidup. Langgeng terus ya kalian berdua, karena kalau ga langgeng tulisan ini harus saya edit (lagi).



Melisa & Kevin, couple favorit saya. Berbeda dengan dua couple di atas. Melisa dan Kevin yang juga satu kamar dengan saya adalah sepasang ibu & anak. Mama Kevin biasa kami memanggilnya, karena beliau sudah seperti ibu kami sendiri, setiap perlu apapun seperti makan atau minuman pasti Mama Kevin punya stocknya. Mama Kevin, si Mama serba ada. Bukan hanya itu Mama kevin banyak sekali berbagi kisah inspiratif, saat di kamar. Beruntungnya, saya satu kamar dengan Mama Kevin karena bisa langsung mendengar kisah yang luar biasa. Mama Kevin juga benar-benar membuktikan pada Kevin, bahwa Ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Melihat Kevin nampaknya saya tahu kenapa dia cerdas sekali, karena Mamanya yang mengajarkannya. Satu kalimat yang paling ngena banget buat saya ketika Mama Kevin bilang ‘Dimanapun kamu berada, kamu yang jaga nama baikmu, jadi kalau kamu ngambek atau marah-marah yang jelek bukan mama, karena mama ga pernah ngajarin kamu. Tapi yang namanya jelek, namamu’.

Akhirnya, ada foto sepasang anak dan ibu ini! 

Mendengar cerita-cerita inspiratif dari Mama Kevin, saya jadi penasaran dengan Kevin, iseng bertanya tentang perjalanan kemana saja yang sudah dilalui. Akhirnya, di suatu malam Kevin menjawab dengan antusias. Kevin, yang bernama lengkap Ahmad Kevin Aljabar, nama itu diberikan karena memang sang mama suka dengan aljabar dan memang jika dalam Bahasa Arab artinya pemimpin, kalau ga salah, berarti benar. Seperti namanya, harapan sang mama, Kevin menjadi seorang pemimpin, saya malah sudah mencium ketika besar dia menjadi Pemimpin trip ke luar negeri. Haha. Anak berusia 10 tahun yang sudah menaiki Gunung krakatau, dan melakukan trip ke Derawan membuktikan bahwa nge-trip ga harus nunggu dewasa, bahkan Mama Kevin juga mengajarkan Kevin untuk menabung jika ingin melakukan trip. Seru sekali, meminta Kevin bercerita tentang keindahan Derawan dan tak kuasa menahan tawa ketika Kevin bilang ada penyu gede banget dengan mimik wajah dan gerakan tangan yang menggemaskan. Bahkan beberapa bagian dia ceritakan dengan detil.

Anak yang hebat lahir dari rahim Mama yang hebat. Dan Mama Kevin sudah membuktikannya, walau perjuangan membuat Kevin lebih hebat lagi dari sekarang, masih panjang. Saya jadi kepikiran kalau Kevin nulis perjalanan yang sudah dilaluinya dan menjadikannya cerita dalam satu buku, pasti keren. Bayangin kalau Kevin sudah tua nanti, anak-anaknya baca buku Ayahnya yang sudah melakukan perjalanan keliling Indonesia mulai usia 10 tahun. Semoga terwujud ya.

Si Juru Cekrek

Tanpa Juru Cekrek apalah arti trip BPJ to Wayag. Tanpa mereka tak ada foto epik yang bisa dipamerkan di sosial media.

Om Binz, juru cekrek yang paling baik. Bahkan kami pun membuat julukan dengan #OmLagiOm untuk difoto lagi dan lagi. Kameranya juga keren banget. Bayangin harus naik ke bukit yang terjal sambil bawa kamera di tas. Gokil, emang Om Binz.

Fery, saya nobatkan sebagai si  juru cekrek landscape yang religius. Waktu makan bersama, dan ketika saya sudah menyuap dua sendok, makanan Koh Fery baru datang dan sebelum menyantap dia berdoa dulu. Seketika, saya baru ingat kalau belum baca doa. Better late than never, langsung baca doa walau sudah menyantap dua sendok. Seperti Om Binz, Koh Fery ini baik banget kalau kita mau difoto sama dia, langsung disambut dengan hangat. Bahkan saya sempat bilang ‘Koh bisa ga buat gue terlihat lebih tirus’ oh kalau gitu agak dongak palanya biar agak tirus. Daebak, emang si Kokoh! Hahaha.

Akhirnya, ada juga foto candid juru cekrek, Koh Fery yang dicekrek profesional oleh Koh @hianusaeka

Chiko, teman Koh Fery ini sangat menggemaskan. Pasalnya, Chiko & Koh Fery buka bisnis bersama, lihat karya mereka disini. Kebetulan duduk bersampingan ketika di peswat menuju Jakarta. Saya pun mengapresiasi Chiko karena naik ke atas bukit yang terjal sekali. Gila ya, saya aja ngos-ngosan naik ke atas bukit Wayag. Semangat Chiko perlu diacungi jempol. Salut juga melihat perteman antara Koh Fery dan Chiko, ketika turun dari bukit Koh Fery membantu dan memandu Chiko agar ga salah pijak. Memang benar untuk menguji persahabat seseorang, harus ngerasain nge-trip bareng dulu baru kita tahu bagaimana orang itu. Dari Chiko saya juga tahu genrenya para juru cekrek. Belajar banyak dari Chiko.



Si CePe yang Kece

Perjalanan yang seru tak akan teradi tanpa Cepe yang Kece. Beruntung kami memiliki CePe yang kece dan luar biasa kerennya.



Emye, Cepe yang paling paham Indonesia. Membaca bio Omed, begitu panggilannya, membuat saya berdecak kagum, pria yang selalu ingin mempromosikan keindahan Indonesia ini terus berusaha membuat trip ke daerah-daerah yang belum terjamah. Omed kalau sudah sampai di satu spot, dia akan menyendiri dulu, mungkin sedang merasakan keindahan alamnya dan setelah itu foto sekali dua kali take. Saking kebanyakan berkunjung ke sebuah tempat, H-1 sebelum trip, Omed mengirimkan foto ke grup dan mengabarkan kalau dirinya drop. Untungnya Omed tetap ikut trip ini kalau tidak kami semua terlantar, karena hanya Omed yang tahu Raja Ampat.

Gaya waktu ditanya kapan nikah? yang dikeker tustelnya Koh @freyituferry


Hans, Cepe yang paling bawel kalau narikin uang buat share cost. Tapi bersyukur banget Cepe-nya Koh Hans, beliau lucu dan setiap kata yang keluar cukup membuat terbahak. Bahkan beliau mengajarkan kami kalau ditanya orang kenapa kita hitaman? Jawab aja, iya nih abis nge-trip ke Raja Ampat. King of Congkak, jadi kalau mau belajar congkak bisa ke Koh Hans, bukan congkak biasa tapi congkak elegan. Dijamin kalau kamu belajar congkak dari Koh Hans, lawan bicaramu bakal terbahak dengan kecongkakan mu. Selain itu, Koh Hans juga ahli cekrek. Bisa tahu, gaya yang bagus dan properti yang layak biar hasil jepretnya bagus. Waktu itu saya dijepret pakai tustelnya, walhasil muka jadi mirip Laudya Cyntia Bela haha.


Ale, yang selalu memakai topi pura-pura botak, padahal aslinya selalu botak. Ga ada Bang Ale ga ramai. Bang Ale ramai banget orangnya, kalau foto gayanya aya aya wae. Dan orangnya ganteng banget sebenarnya, cuma karena kemarin sebelum ke Wayag ke Misol jadi ada perubahan warna kulit yang menakjubkan. Selain lucu, Bang Ale juga suka bergaya di depan kamera, Photo Genic lebih tepatnya. Selain ganteng nan manis, Bang Ale ini juga masih available, buat para wanita buruan sikat dijamin bisa ngebahagian kamu dunia dan akhirat. Sikat sekarang, soalnya kalau hari senin keburu sold out. Hahaha.



Itu kisah tentang teman-teman trip perdana BJP to Wayag, amazing trip with incredible people. Tulisan ini, adalah tulisan terpanjang yang pernah saya buat di blog, mungkin kalau dijadikan buku tulisan ini bisa jadi satu bab. Tapi saya senang menulis ini, karena mengalir begitu saja. Setiap orang mengucapkan terima kasih dengan cara yang berbeda, dan tulisan ini adalah ucapan terima kasih saya atas kemeriahan, kemurahan hati teman-teman dalam berbagi cerita. 

Dan semoga Cepe ga kapok nerima saya buat trip. Terakhir, saya mohon maaf apabila ada perkataan dan perbuatan yang kurang berkenan. Terkhusus untuk Omed, mohon maaf ya, kalau pas naik ke Wayag saya agak lama atau terkesan lelet, itu semua terjadi karena saya harus ibadah dulu di kapal. Dalam setiap trip saya mencoba untuk seberapa sering saya mengingat Sang Khalik yang Maha Asik.

Sekali lagi, terima kasih kalian sungguh luar biasa, semoga Tuhan menyatukan kita di trip lain J


Kalau kamu kapan mau menginjakkan kaki ke surga Indonesia, Raja Ampat? 

Comments

Popular posts from this blog

Menteri Favorit ala Diah Sally

5 Hal Yang Harus Diperhatikan Sebelum Berbicara Di Depan Umum

3 Jenis Narasumber & Solusinya